Marosatu.com, MAROS — Suasana penuh kehangatan dan haru mewarnai malam ramah tamah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) Tahun 2026 di Kelurahan Baju Bodoa, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros.
Kegiatan tersebut menjadi momentum perpisahan sekaligus refleksi atas rangkaian pengabdian mahasiswa KKN-T Gelombang 116 selama berada di tengah masyarakat. Meski menjadi malam perpisahan, suasana yang terbangun justru terasa seperti perayaan atas kebersamaan yang telah terjalin antara mahasiswa, pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, pemuda, dan warga.
Malam ramah tamah itu turut dihadiri Camat Maros Baru, Sekretaris Camat Maros Baru, Lurah Baju Bodoa Ahmad, S.E., Ketua RW, para Ketua RT, Ketua Karang Taruna Baju Bodoa, tokoh masyarakat, serta warga Kelurahan Baju Bodoa.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menjadi gambaran kuat bahwa keberadaan mahasiswa KKN tidak hanya dipandang sebagai program akademik, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat selama menjalankan pengabdian.
Koordinator KKN-T Gelombang 116 Kelurahan Baju Bodoa menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas sambutan serta dukungan yang diberikan masyarakat sejak awal kedatangan hingga berakhirnya masa pengabdian.
Menurutnya, KKN bukan sekedar menyelesaikan program kerja, melainkan proses belajar bersama masyarakat. Para mahasiswa datang dengan membawa pengetahuan dari kampus, namun selama berada di lapangan mereka justru mendapatkan pengalaman, nilai kehidupan, dan pelajaran sosial yang tidak selalu ditemukan di ruang kelas.
“Kami datang sebagai mahasiswa dengan membawa program dan gagasan, tetapi masyarakat Baju Bodoa telah mengajarkan kami lebih banyak tentang arti kebersamaan, kepedulian dan pengabdian. Setiap program yang kami jalankan tentu memiliki keterbatasan, tetapi kami berharap apa yang telah kami lakukan dapat memberikan manfaat, meskipun kecil,” ujar Koordinator KKN-T Gelombang 116.
Ia menambahkan, momen ramah tamah tersebut bukan menjadi akhir dari hubungan antara mahasiswa dan masyarakat.
“Malam ini bukan benar-benar akhir. Kami mungkin meninggalkan lokasi KKN, tetapi pengalaman, cerita, kenangan bersama. Terkhusus Bapak posko dan ibu posko. Semoga silaturahmi ini tetap terjaga, dan semoga apa yang kami tinggalkan dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat,” tuturnya penuh haru.
Sementara itu, Lurah Baju Bodoa, Ahmad, S.E., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para mahasiswa KKN yang telah hadir dan berbaur dengan masyarakat selama menjalankan program pengabdian.
Ahmad menilai, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat bukan sekadar menjalankan kewajiban akademik, tetapi telah menciptakan hubungan emosional dan kebersamaan yang akan menjadi kenangan bagi kedua belah pihak.
“Bagi kami, kehadiran adik-adik mahasiswa bukan sekadar menjalankan kegiatan, tetapi telah menjadi bagian dari cerita dan kehidupan masyarakat. Mungkin suatu saat kami lupa nama kegiatan, tanggal kedatangan, atau detail program yang dilakukan, tetapi kami tidak akan lupa bahwa pernah ada sekelompok anak muda yang datang, berbagi ilmu, semangat, dan kebersamaan bersama masyarakat,” ujar Ahmad.
Ia berpesan kepada para mahasiswa agar tidak hanya mengukur keberhasilan KKN dari banyaknya program yang terlaksana.
Menurutnya, ukuran keberhasilan pengabdian yang sesungguhnya adalah ketika kehadiran mahasiswa mampu meninggalkan manfaat dan perubahan positif, sekecil apa pun, bagi masyarakat.
“Pergilah membawa pengalaman dan kenangan yang baik. Kehadiran adalah awal dari perkenalan, kebersamaan adalah sebuah perjalanan, dan yang terpenting adalah apa yang tetap tinggal setelah kita meninggalkan tempat ini,” tuturnya.
Hal senada disampaikan salah seorang tokoh masyarakat Kelurahan Baju Bodoa. Ia mengaku kehadiran mahasiswa KKN-T memberikan warna tersendiri bagi kehidupan masyarakat selama beberapa waktu terakhir.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada adik-adik mahasiswa. Kehadiran kalian telah memberikan semangat baru bagi masyarakat, khususnya dalam berbagai kegiatan yang dilakukan bersama. Kami berharap pengalaman selama berada di Baju Bodoa menjadi kenangan yang baik dan menjadi bekal bagi adik-adik untuk melangkah lebih jauh,” ujarnya.
Ia juga berharap hubungan silaturahmi yang telah terbangun tidak berhenti setelah mahasiswa meninggalkan Kelurahan Baju Bodoa.
“Jangan anggap malam ini sebagai akhir dari semuanya. Rumah masyarakat Baju Bodoa akan selalu menjadi bagian dari cerita perjalanan kalian. Semoga suatu hari nanti kita dapat bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik,” katanya.
Malam ramah tamah kemudian berlangsung dalam suasana akrab. Canda, tawa, pesan, ucapan terima kasih hingga momen haru mewarnai pertemuan antara mahasiswa dan masyarakat.
Bagi mahasiswa KKN-T Gelombang 116, Baju Bodoa bukan lagi sekadar lokasi penempatan. Tempat tersebut telah menjadi ruang belajar tentang kehidupan, tempat berbagi gagasan, sekaligus rumah sementara yang meninggalkan banyak cerita.
Kegiatan tersebut pun ditutup dengan foto bersama dan Makan Bersama. Namun, di balik berakhirnya masa pengabdian, terselip harapan agar nilai-nilai kebersamaan, kepedulian dan semangat pengabdian yang telah dibangun selama KKN dapat terus hidup di tengah masyarakat.
Karena pada akhirnya, mahasiswa mungkin datang untuk mengabdi, tetapi sering kali justru pulang dengan membawa pelajaran kehidupan yang jauh lebih berharga.













